Trending Topic

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Post Page Advertisement [Top]


            Sebagai Mahasiswa, tentulah kita punya tanggung jawab yang sangat besar ditengah masyarakat kita, baik itu sebagai pejuang keadilan, penjaga moral maupun pemicu kemajuan daya kreatif maupun intelektual ditengah masyarakat. Bukti nyata tentu terlihat ketika Mahasiswa bisa meruntuhkan rezim ketidakadilan di Negara kita, dan juga semangat juang mereka dalam melawan kesenjangan mauphn kecurangan yang dilakukan oleh pihak penguasa.
             Namun sayangnya di era ini, peran tersebut seakan tidak terlihat, entah karena pergerakan mahasiswa yang pasif atau karena sebab eksternal seperti condongnya media ke penguasa, sehingga setiap pergerakan mahasiswa tidak ter expose , bahkan malah terkesan digembosi oleh mereka.
             Kenyataan yang lebih memalukan lagi, saat ini pergerakan mahasiswa dicitrakan dengan Pasukan Nasi Bungkus maupun Pasukan Nasi Kotak. Tentu ini menjadi kenyataan yang memilukan sekali bagi para generasi agent of change yang telah banyak melahirkan tokoh nasional seperti Bung Karno maupun Bung Hatta.
             Bung Karno bukan lah sosok yang muncul tiba-tiba dan dengan bimsalabim menjadi Bapak Negara Indonesia, dia di masa mudanya adalah mahasiswa jurusan arsitektur di salah satu perguruan tinggi milik Belanda, dia terkenal sebagai pribumi yang berani memprovokasi teman sebayanya untuk melawan ketidakadilan Belanda, dan juga dia banyak melahirkan organisasi pergerakan untuk menghimpun dan mencetak tunas penggerak kaum intelektual, dan dia juga adalah penulis yang produktif yang dihiasi dengan kemampuan berpidato dan orasi yang sangat ulung, sehingga di masa mudanya pergerakannya selalu diawasi oleh mata-mata penjajah.
             Namun realita berbalik di era ini, ketika mahasiswa sudah tidak malu menjual idealismenya hanya demi Nasi Bungkus dan dua lembar pecahan 50.000 rupiah, dan dengan alasan menjaga keutuhan NKRI mereka menggadaikan nama baiknya untuk menjadi tangan kanan penguasa untuk menghancurkan mereka yang mencoba mengganggu permainan penguasa.
            Tentu hal ini menjadi kemunduran ekstrim bagi golongan intelektual yang menyebut dirinya sebagai mahasiswa. Dan tentulah diperlukan penggerak mahasiswa yang mempunyai ketulusan hati dan kebersihan jiwa yang siap berjuang demi keadilan dan menegakkan keutuhan NKRI yang berasaskan ketaqwaan sesuai dengan sila ketuhanan yang maha esa.
             Karena ketika kita sudah bersatu padu, dan berjuang semata-mata mengharap Ridla Tuhan yang maha esa, tentulah arah perjuangan kita tidak akan mudah digoyahkan oleh bayaran dari penguasa yang merusak mentalitas idealis kaum Mahasiswa.
            Atau setidaknya muncul embrio baru golongan agent of change yang siap berontak dan melawan penguasa ketika idealismenya diusik dan diganggu.
            Dari bukti diatas, tentu generasi Mahasiswa INI DALWA mempunyai semua bekal tersebut, dimana kita telah dididik untuk memiliki jiwa spartan dalam berjuang ketika kebenaran dan keadilan diusik, dan kita juga memiliki jiwa ketulusan berkat tarbiyah yang diajarkan oleh Para Masyayikh kita.
            Namun pertanyaannya, "sudah pantas dan siapkah kita untuk turun berjuang ?", karena kita lihat masih banyak dari Mahasiswa INI DALWA yang meremehkan Peraturan Perkuliahan, sehingga kita lihat banyak kelas yang sepi dari Mahasiswa, padahal realita berkata bahwa tujuan dari Abuya Hasan Baharun membangun Kampus di lingkungan Pesantren adalah untuk mengembangkan daya intelektual santri agar siap untuk maju menghadapi perabadan zaman. Dan tujuan lain adalah membumikan ilmu yang didapat di kelas diniyah, sehingga ilmu diniyah bisa menjadi dasar semua perilaku masyarakat, bukan malah ilmu diniyah dimanfaatkan untuk kepentingan duniawi seperti halnya yang dilakukan oleh kaum liberal.
            Saat ini Indonesia sangat butuh generasi pergerakan bermental tawassut dalam artian yang sesungguhnya seperti yang dimiliki oleh Abuya Hasan Baharun, yang kita lihat dakwah Abuya Hasan diterima dimanapun beliau berpijak, kurikulum pengajaran beliau bisa menghimpun semua kalangan di Nusantara, bahkan Para Ulama Hadramaut maupun Jazirah Arab mengakui keberhasilan manhaj Dakwah Abuya Hasan Baharun.
            Sehingga kita sebagai murid beliau sangat diharapkan bisa muncul ke Permukaan, bahkan terbang melintasi batas demi terwujudnya keadilan dan keadaan yang nyaman sejahtera di Negara kita Republik Indonesia.
            Betapa banyak alumni yang sukses bergerak di Masyarakat, yang pergerakannya tidak hanya sebagai penyebar ilmu, tapi juga menjadi penggerak ditengah masyarakat, berapa banyak mereka yang memiliki pondok, pengusaha dermawan, dosen yang menjadi panutan bahkan menjadi Pemimpin Daerah yang lahir dari tarbiyah dan manhaj Abuya Hasan Baharun.
            Tentu ini menjadi catatan penting yang senantiasa harus kita sematkan dalam hati, bahwa pendidikan dibangku kuliah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari manhaj Abuya Hasan Baharun.
            Sehingga tidak ada lagi cerita Mahasiswa yang tidak masuk kuliah karena alasan capek, mereka yang menyakiti hati dosen karena kelas yang sepi, maupun cerita para aktivis mahasiswa yang malah lalai dari kewajiban utamanya untuk masuk kelas ketika dosen mengajar hanya karena alasan pergerakan maupun kegiatan yang tak bisa ditinggalkan.

            Hal diatas tentu jadi renungan kita bersama sebagai Mahasiswa INI DALWA yang memiliki semboyan "Santri yang Mahasiwa dan Mahasiwa yang Santri" yang mana ketika kita berhasil konsisten dan istiqomah, insya Allah berkat keberkahan ilmu dan pengalaman kita disini, kita akan menjadi penggerak dan agent of Change seperti Murabbi kita yaitu Abuya Hasan Baharun.
| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close