Pendaftaran online dauroh romadhan 1440 / 2019 di ponpes dalwa telah dibuka untuk umum, dari tgl 1 sya'ban - 15 sya'ban 1440 H / 7 april -21 april 2019 M , kuota terbatas. sekian terima kasih!

Karya Santri

Bahasa Arab

Resensi

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Dalwa File

Event

Wawancara

Santri Prestasi

Post Page Advertisement [Top]

Benarkah Kita Sudah Merdeka?DalwalpmdalwaOPINIRefleksi Kemerdekaan Indonesia

Refleksi Kemerdekaan Indonesia, Benarkah Kita Sudah Merdeka?

Beberapa saat yang lalu, kita telah memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia, hari yang sangat bersejarah bagi seluruh masayarakat Indonesia, karena dengannyalah proses transisi antara keterkekangan menuju kebebebasan, dari kesedihan menuju kebahagiaan, dari keterbungkaman menuju kedaulatan.
            Begitula gambaran perasaan yang dialami oleh bangsa Indonesia waktu itu, dijajah selama ratusan tahun, ditindas, didzalimi, dihina, dibunuh, diperkosa, dipaksa, dan berbagai perilaku ketidakmanusiaan lainnya yang dilakukan oleh penjajah, mulai dari Portugis dan Spanyol, dilanjutkan dengan Belanda dan Inggris, diakhiri dengan Jepang.
            Sekarang kita tidak lagi merasakan kepedihan seperti apa yang dirasakan oleh nenek moyang kita, karena penjajahan sudah dihapuskan dibumi Indonesia, maka apa yang harus kita lakukan untuk melanjutkan perjuangan para syuhada yang telah rela  mengorbankan jiwa raganya demi kemerdekaan Indonesia ?.
            Mengutip perkataan Ir. Soekarno “ Perjuangan kita belum selesai “, begitulah ekspresi dari bapak bangsa kita, beliau sangat tahu betul bahwa proklamasi kemerdekaan itu bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal langkah menuju Indonesia yang makmur, damai, dan sejahtera. Kalau perjuangan kita belum selesai, siapakah penjajah yang kita hadapi sekarang? Ditulisan inilah penulis berusaha untuk menguraikan tantangan dan upaya yang harus dilakukan oleh generasi penerus perjuangan bangsa Indonesia.
            Jangan sangka jika penjajah sudah hengkang dari bumi pertiwi, karena tabiat sebuh penjajah akan selalu merasa lapar dan haus akan kekuasaan dan kekayaan. Kalau dulu kita dijajah secara fisik, sekarang kita dijajah dengan cara yang lebih halus.
            Dimulai dengan penjajahan pola pikir atau worldview, berbagai paham dari laur diekspor ke Indonesia yang notabenenya tidak sesuai dengan sikap ketimuran dan keislaman yang sudah identik dengan kita. Seperti contoh paham liberalisme, kapitalisme,sekulerisme, feminisme, dan lain-lain yang berasal dari budaya barat, serta paham sosialisme-komunisme yang berasal dari budaya dan kepercayaan seperti China dan Rusia.
            Bukankah kita telah memiliki budaya dan worldview sendiri, negara yang mayoritas Islam ini memiliki landasan negara yaitu Pancasila dan UUD 1945, isi dari Pancasila itu diambil dari ajaran Islam, dibuktikan dengan tidak ada satu silapun yang bertentangan dengan konsep Islam. Ini mengindikasikan bahwa Ideologi yang dimiliki bangsa Indonesia adalah Ideologi Islam.
            Berarti segala sesuatu yang bertentangan dengan agama Islam, harus ditolak, karena akan mengakibatkan kemunduran, bukankah dulu sebelum kita merdeka, penjajah membawa ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Islam. Maka, ketika kita kembali mengkonsumsi ideologi-ideologi dari mereka, berarti kita telah kembali kezaman penjajahan.
            Tapi, sayang seribu sayang, sebagian dari rakyat Indonesia menerima ideologi-ideologi tersebut tanpa diiringi dengan filterisasi terlebih dahulu. Akibatnya meskipun kita telah merdeka, tapi hakikatnya kita belum merdeka. Sistem Kapitalisme melahirkan ketidakberdayaan rakyat Indonesia menghadapi para konglomerat-konglomerat, yang kaya akan semakin kaya, sedangkan yang miskin akan semakin miskin.
            Sumber Daya Alam yang melimpah, tidak bisa diberdayakan oleh negeri sendiri, padahal kita sudah lama merdeka, umur 72 tahun bukan umur yang sebentar, Malaysia yang merdeka setelah kita, bisa lebih maju dari kita, apa yang salah dengan kita? Tidak lain karena kita menghambakan diri dengan pemahaman-pemahan eksternal diatas,  tidak mungkin pemahaman dan sistem seperti itu bisa masuk ke Indonesia tanpa ada tujuan dan maksud terselubung.
            Tantangan bangsa kita bukan hanya datang dari eksternal tapi juga dari bangsa kita sendiri, salah satunya adalah tentang orientasi hidup masyarakat Indonesia, bagaimana kita melihat mayoritas masyarakat Indonesia yang jauh dari ajaran agama Islam. Pendidikan yang diagendakan pemerintah  berorientasi untuk mencari pekerjaan, sebuah misi yang sangat kecil sekali jika dibanding dengan misi negara ini.
            Pendidikan yang menghasilkan anak didik yang berorientasikan keduniaan, sehingga yang dipikirkan hanya bagaimana mereka bisa bertahan hidup, dapat survive, bertambahnya kekayaan, dan tujuan-tujuan materialistik lainnya, apakah hanya seperti itu kah tujuan pendidikan kita?.
                        Kenapa sampai sekarang kita tidak kunjung merdeka juga, alasannya karena kita salah dalam mendidik bangsa Indonesia. Padahal yang akan memegang tampuk kekuasaan dan pengelolaan sumber daya alam adalah mereka. Salah satu contoh saja, koruptor yang tidak kunjung berakhir, dari lembaga pendidikan mana mereka keluar? Kita sepakat kalau mayoritas dari mereka adalah keluaran pendidikan umum.
            Berangkat dari sinilah, agama Islam memberi solusi, bahkan telah dibuktikan dalam sejarah, mulai dari zaman Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, hingga Daulah Turki Ustmani, membuktikan bahwa jika kita kembali ke ajaran agama, maka kita bisa kembali kekejayaan Islam seperti dahulu, bukan dengan menegakkan khilafah di muka bumi ini, tapi dengan mengimplementasikan segala ajaran Islam yang bersumber dari Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW secara kaffah.
            Momentum hari kemerdekaan ini, kita jadikan sebagai waktu untuk muhasabah diri, kita refleksikan kembali, mengingat sejarah akan perjuangan para pejuang dan syuhada, jangan sampai para pejuang disana melihat kita sekarangan sedangkan kita tidak melakukan apa-apa untuk negeri ini. Tidak cukup hanya koar-koar mengatakan Saya Indonesia Saya Pancasila, tapi kita tidak berusaha meneruskan perjuangan ini. Yang paling banyak berkontribusi untuk negeri ini, dialah yang paling cinta Indonesia, dialah yang paling paham akan makna dari Pancasila.

            Minimal kita berdo’a kepada Allah SWT agar bangsa dan negara kita tercinta ini, NKRI, bisa menjadi negara yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur dan menjadi negara percontohan bagi negara lain dalam segala bidang, baik itu politik, ekonomi, sosial, budaya, serta bisa pro aktif membantu bangsa dan negara lain yang sedang dalam keterpurukan dan kemiskinan seperti negara Turki yang sekarang sudah menjadi perhatian dunia akan peran positifnya demi keamanan dan kestabilan dunia.  
| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close
Banner iklan disini