Pendaftaran online dauroh romadhan 1440 / 2019 di ponpes dalwa telah dibuka untuk umum, dari tgl 1 sya'ban - 15 sya'ban 1440 H / 7 april -21 april 2019 M , kuota terbatas. sekian terima kasih!

Karya Santri

Bahasa Arab

Resensi

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Dalwa File

Event

Wawancara

Santri Prestasi

Post Page Advertisement [Top]

lpmdalwaOPINITahun Baru Islam Sebagai Momentum Perubahan

Tahun Baru Islam Sebagai Momentum Perubahan

Tak terasa kita telah berada di bulan yang istimewa, Bulan yang di dalamnya terdapat banyak kemuliaan dan keutamaan serta peristiwa – peristiwa penting dalam agama islam. Bulan yang menjadi salah satu bulan yang diharamkan padanya peraang dan pertumpahan darah. Amal perbuatan dilipatgandakan begitu pula maksiat yang dikerjakan. Peristiwa-peristiwa bersejarah dan monumental banyak tejadi di bulan ini, khususnya pada tanggal 10 muharrom atau yang lebih kita kenal dengan hari Asyuro’. Diantaranya arsy’ di ciptakan, diselamatkannya nabi Ibrahim dari kobaran api,diciptakannya nabi adam dan banyak lagi yang lainnya.
Bulan yang sekaligus menjadi pertanda bhawa kita telah memasuki tahun yang baru dalam kalender hijriyah, kalender yang menjadi simbol umat islam dengan hijrahnya Rasulullah SAW bersama para sahabat Rhadiyallahu anhum  dalam menyebarkan dan menegakkan kalimatullah. Mereka lela meninggalakan segala yang mereka miliki  serta kota kelahiran mereka yang sangat dicintai.
Kalender yang di tetapkan oleh khalifah Umar bin khattab Rhadiyallahu ‘anhu itu menjadi sebuah kado indah bagi umat islam sehingga umat islam memiliki kalendernya sendiri. Namun sangat di sayangkan dinegara kita yang tercinta ini, kalender yang notabenenya menjadi suatu kebanggaan bagi kita sebagai umat islam seakan-akan hanya sebagai back ground penghias kelender masehi terbukti dengan meriahnnya perayaan tahun baru masehi dengan berwarna warninya langit di kota-kota besar di Indonesia dengan kembang api,panggung-panggung megah didirikan dalam menyambut tahun baru masehi dengan acara yang bermacam-macam yang dihadiri oleh aparatur negara,serta meluapnya antusias masyarakat dengan turun kejalanan sambil meniupkan terompet bersama dengan keluarga penuh suka riang untuk merayakan pergantian tahun baru dan lebih menyedihkan lagi kebanyakan dari mereka ialah umat islam itu sendiri khususnya para pemuda-pemudi islam.
Berbanding terbalik ketika kita menyambut tahun barun hijriyah, tahun baru kita sendiri, tahun baru umat islam. Kemeriahan serta hiruk pikuk seperti  penyambutan pergantian tahun baru masehi sulit kita jumpai ketika pergantian tahun hijriyah.
Meskipun pada hakikatnya esensi dari tahun baru itu bukanlah bagaiamana meriahnya penyambutan pergantian tahun tapi lebih kepada bagaimana kita dapat menyikapi pergantian tahun ini dengan ‘arif. Dengan menjadikan pergantian tahu ini sebagai momentum kita berhijrah menjadi insan yang lebih baik lagi. Dengan adanya intropeksi diri atau muhasabah diri untuk satu tahun yang kita lewati, dan dengan rasa syukur atas kesempatan yang telah diberikan untuk memperbaiki diri dengan meningkatkan ketaatan kita kepada ilahi , serta niat yang kuat kita tancapkan dalam rangka meningkatkan amal untuk satu tahun yang akan kita jalani
Namun coba kita lihat dari sudut pandang yang pertama yakni tentang kurangnnya perhatian umat terhadap syiar agama yang terlihat bagaimana perbedaan penyambutan antara tahun baru masehi dengan tahun hijriyah. Seakan-akan kita menjauh dari perkara agama dan lebih condong dengan apa-apa yang dimiliki dan dikerjakan umat lain. Bukan rahasia umum lagi saat ini pemuda-pemudi islam bangsa ini lebih senang menghafal lagu barat daripada Al-Qur’an, lebih bangga jika mereka mahir berbahasa inggris daripada berbahasa arab bahasa Rasulullah, lebih sering berada ditempat hiburan daripada ber i’tikaf di mesjid,lebih mengidolakan para selebritis daripada sahabat dan para ulama salafuna shalih, lebih percaya diri jika berpakaian dengan model pakaian barat daripada berpakain gamis ataupun berjilbab apalagi bercadar, bahkan mereka mengatakan bahwa itu semua hanyalah budaya arab bukanlah ajaran agama.

Padahal apabila kita ingin kembali kemasa kejayaan islam sudah semestinya kita meniti jalan yang telah di tentukan oleh Allah dan rasulnya dengan mencintai dan mengamalkan ajaran agama ini secara kaffah. Kejayaan umat ini akan tercapai apabila kita tahu persis siapa jati diri kita sebagai umat islam, umat yang apabila bersatu, bangkit, maju bersama akan di takuti oleh siapaun, dan itu tidak akan tercapai apabila kita tidak mengubah mindset kita dari sekarang. Wallau ‘alam. Ibn-Zain/red
| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close
Banner iklan disini