Pendaftaran online dauroh romadhan 1440 / 2019 di ponpes dalwa telah dibuka untuk umum, dari tgl 1 sya'ban - 15 sya'ban 1440 H / 7 april -21 april 2019 M , kuota terbatas. sekian terima kasih!

Karya Santri

Bahasa Arab

Resensi

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Dalwa File

Event

Wawancara

Santri Prestasi

Post Page Advertisement [Top]


Fitnah terbesar pada masa kini adalah fitnah media massa. Tak sedikit pihak-pihak yang menjadi korban opini media. Tak terkecuali umat Islam. Umat sulit membedakan mana berita yang benar dan mana yang salah; termasuk mana yang berupa opini. Penyajian pemberitaan yang kerap menjebak. Demikian dikatakan Samsul Muarif, praktisi media yang berdomisili di Jakarta.



Sejak perang dingin dan pasca runtuhnya Soviet, kejadian-kejadian dunia diarahkan untuk mendiskreditkan Islam. Salah satunya, muncul istilah teroris dari pernyataan mantan Wakil Presiden AS Dick Cheney bahwa musuh Barat setelah Soviet adalah Islam.


Bagaimana umat Islam harus bersikap? Bagaimana pula peran media Islam? Membahas hal ini lebih jauh, Dalwa Berita mewawancarai Samsul Muarif M.Si yang sempat berkunjung ke Dalwa beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya:



Mengingat kondisi yang kurang menguntungkan, haruskah umat Islam memiliki media tersendiri? 
Benar. Umat Islam seharusnya memiliki media sendiri yang kredibel dan mampu membangun opini kepada umat dan masyarakat. Umat Islam mesti sadar benar akan pentingnya memiliki media mengingat negara-negara besar melalui media massa selama ini sudah memecah belah umat Islam. Tak sedikit kejadian demi kejadian yang direkayasa dan diarahkan semata-mata untuk mendiskreditkan dan memusuhi Islam. 

Contohnya, pemboman gedung WTC di New York pada 11 September 2001, dijadikan pintu masuk menuduh umat Islam sebagai pelakunya. Tuduhan-tuduhan berikutnya terus berjalan. Pada bulan Juni 2007, Uni Eropa melakukan “perang” terhadap Islam dengan membuat laporan setebal 18 halaman yang menyebutkan bahwa selama itu sudah terjadi 498 tindakan terorisme di Eropa, meski sebenarnya fitnah belaka.

Terhadap umat Islam di Indonesia, tekanan juga terasa begitu hebat. Baik tekanan yang mengarah pada pembunuhan orang-orang yang belum dibuktikan kesalahannya oleh aparat negara, maupun tekanan masif dengan pembentukan opini yang menggusur nilai-nilai Islam dalam masyarakat. Opini yang menyerang nilai-nilai Islam itu dibentuk dengan berbagai aspek seperti, pemelintiran sejarah, sistem pendidikan serta media massa. Kontrol terhadap beberapa aspek ini memudahkan untuk membuat wacana tertentu seakan menjadi kenyataan.

Media massa adalah salah satu corong pembentukan wacana yang memiliki  pengaruh sangat dahsyat. Media massa menjadi kekuatan untuk menyebarkan gagasan, bahkan dapat menentukan apa yang baik dan buruk. Pengaruhnya mampu untuk mendefinisikan nilai-nilai tertentu sehingga diterima dan diyakini kebenarannya dalam masyarakat, bahkan dapat memberi legitimasi untuk gagasan tertentu dan mendeligitimasi gagasan yang dianggapnya menyimpang.

Dengan pengaruhnya yang luar biasa itu, maka sangat naif jika kita mengharapkan media sebagai pihak yang netral. Celakanya, pengaruh media massa saat ini didominasi bukan oleh media yang memperjuangkan nilai-nilai Islam, namun dijejali dengan media berbasis sekuler. Di negeri ini hanya ada segelintir harian Islam dan televisi Islami. Di layar kaca, materi Islam hanya singgah saat orang masih terlelap, dan semarak ketika bulan ramadhan tiba. Selebihnya, umat tidak bisa berharap banyak.

Penghasutan wacana yang begitu kuat, mulai dari liberalisasi agama, kampanye anti syariat Islam, sekularisasi hingga pengaburan sejarah menjadi konsumsi sehari-hari umat Islam. Kita terpaksa menelan yang tak baik untuk kita. Hal ini, merupakan buah dari penguasaan wacana yang begitu sistematis dan terarah dari pihak-pihak pengusung nilai-nilai sekular dan liberal. 

Pembentukan wacana miring mengenai Islam oleh media, dengan cara yang beragam memang dapat kita telusuri melalui pemberitaan-pemberitaan yang ada. Seperti misalnya dalam kasus razia miras oleh ormas tertentu. Media hanya memberitakan hal itu sebagai perilaku brutal atau premanisme. Tapi tidak melihat rusaknya masyarakat akibat miras tersebut. Atau ketika terjadi pembantaian umat Islam di suatu wilayah, media cenderung menggunakan kata bentrok, kerusuhan dan sebagainya. Penggunaan kata- kata memang mencerminkan sudut pandang tertentu. Saat memberitakan demonstrasi menentang keberadaan Ahmadiyah, maka media sekuler memakai kata seperti anarkisme atau intoleran. Metode misrepresentasi ini memang ditujukan untuk memberikan kesan tidak baik dan menghilangkan realitas tertentu, seperti penodaan terhadap ajaran Islam yang ditimbulkan oleh ajaran Ahmadiyah.

Kekuatan media melalui framing pemberitaan melangkah lebih jauh. Framing bisa berkaitan dengan opini publik. Ketika sebuah isu tertentu dikemas dengan bingkai tertentu, bisa mengakibatkan pemahaman yang berbeda atas suatu isu.

Seiring dengan pesatnya pertumbuhan IT, umat Islam perlu turut serta memanfaatkannya.
Dominannya kaum muda yang menggunakan internet menandakan masa depan penduduk Indonesia akan beralih ke media massa digital. Internet saat ini juga telah mengubah kebiasaan kita sehari-hari dalam berbagi dan menyerap informasi.

Efektivitas penyebaran informasi dalam dunia digital (internet) memang jauh lebih dahsyat ketimbang media massa cetak. Semua bisa memperoleh dan menyebarkan informasi dalam saat yang bersamaan. Penyebaran informasinya menghancurkan batas-batas geografis, sekat budaya dan kebiasaan.

Lantas, umat harus bagaimana? Membangun portal berita Islam bisa dijadikan terobosan umat Islam. Dengan mendirikan media massa digital inilah yang akan mempercepat pertumbuhan media Islam. Namun, upya itu harus diikuti dengan manajemen media yang canggih, kualitas pemberitaan, sumber yang valid, verifikasi berita serta pengemasan berita yang menarik agar bisa disimak berbagai segmentasi pembaca.

Adakah terobosan lain agar umat Islam memiliki media Islam yang ideal?
Yang paling ideal masa kini adalah membangun stasiun televisi sendiri. Saya sepakat dengan gagasan Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) yang beberapa waktu lalu memprakarsai gagasan perlunya kaum Muslim Indonesia membentuk sebuah stasiun televisi berskala nasional. Umat Islam Indonesia dinilai sudah saatnya untuk memiliki stasiun televisi dan media massa yang berwibawa dan berpengaruh. Bila perlu, menjadi trend setter dari kehidupan nasional. Untuk itu, terpikirkan untuk segera memiliki stasiun televisi sendiri.

Beberapa hal melatari gagasan tersebut diantaranya, kesadaran akan besarnya potensi umat Islam Indonesia. Aksi Super Damai 2 Desember lalu, misalnya, merupakan bukti bahwa kaum Muslim bisa bersatu padu untuk menoreh sejarah. Sementara eksistensi stasiun-stasiun televisi yang ada masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri.

Meski demikian, banyak kegiatan umat Islam yang bernilai positif kurang mendapatkan sorotan nasional. Selain itu, beberapa pemberitaan justru kurang proporsional terhadap Islam. Khusus untuk umat Islam, dipandang perlu ada stasiun televisi sendiri. Sehingga, bisa menjadi sarana pencerdasan kehidupan umat.

Mengapa harus televisi, karena untuk wilayah-wilayah tertentu yang belum terjangkau internet, televisi masih menjadi raja yang menguasai arus informasi media massa. Bagaimana pun juga, konsumsi atas media televisi masih jauh lebih unggul daripada internet.

Peran televisi sejatinya memang belum tergantikan kedudukannya oleh internet. Televisi masih menjadi raja dalam ruang keluarga Indonesia. Internet mungkin mulai jadi primadona bagi generasi muda, tetapi bagi generasi orang tua mereka, televisilah yang menyerbu benak mereka dengan gelombang wacana. Fakta bahwa siaran televisI di Indonesia masih cuma-cuma, (kecuali untuk tv kabel), merupakan berkah sekaligus bencana bagi keluarga di Indonesia. Menurut Garin Nugroho, “Televisi adalah urbanisasi kesadaran yang terus menerus terbuka, tidak terbatas, dan mampu mewujudkan dunia ke dalam rumah. Karena itu ia dapat memperkembangkan sekaligus memperlemah pikiran manusia.”

Siaran televisi tidak menyeleksi penontonnya. Pria, wanita, kanak-kanak atau dewasa, semua menjadi pemirsanya, tanpa ampun, menerima informasi, terlepas apakah tayangan itu cocok atau tidak. Arus informasi televisi memang begitu deras. Hampir 24 jam tayang membuat televisi menjadi bagian dari keluarga Indonesia. Anak-anak dipaksa untuk menyesuaikan dengan dunia orang dewasa. Suka atau tidak. Baik atau buruk. Ia hadir ke dalam ruang keluarga kita. Saat ini, semua aspek dalam kehidupan menggunakan televisi sebagai medianya. Tak salah ketika Garin Nugroho mengatakan, “Televisi kini telah menjadi meta-medium, sebuah instrumen yang tidak hanya mengarahkan pemirsa akan dunia namun juga pengetahuan pemirsa akan cara mendapatkan pengetahuan”.

Bahkan televisi kini dianggap memenuhi kebutuhan individu untuk memberinya, identitas, aspirasi dan inspirasi. Dengan pengaruh televisi yang sangat besar, tak mungkin bagi umat untuk mengesampingkan media ini sebagai senjata untuk berdakwah. Untuk menguasai wacana dalam masyarakat. Namun seringkali, televisi dianggap tak mungkin untuk mengusung nilai-nilai ideal. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengamankan netralitas stasiun televisi mengingat hidup dari pasar, bernafas dengan iklan, dan bergantung rating.

Apa pandangan anda terhadap media-media Islam saat ini?
Media Islam di Indonesia dan seluruh dunia mesti bersatu. Tanpa persatuan, media-media Islam tak bisa memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Dengan bersatu, media-media Islam bisa menjadi sebuah kekuatan yang mampu menandingi dominasi media-media Barat.

Salah satu agenda penting yang harus diperjuangkan media-media Islam adalah isu kemerdekaan Palestina. Media-media Islam harus bersatu untuk menyuarakan dan meyakinkan kaum Muslim dan masyarakat di seluruh dunia bahwa kemerdekaan adalah hak rakyat Palestina. Hanya dengan bersatu pula, media-media Islam bisa mengokohkan semangat kaum Muslim di seluruh dunia untuk kembali merebut Masjidil Aqsha, masjid suci ketiga milik umat Islam.

Media-media Islam juga harus bahu-membahu menyampaikan kabar kepada dunia bahwa Islam adalah agama rahmat bagi semesta alam. Upaya ini penting untuk memberi pemahaman kepada masyarakat Barat bahwa Islam adalah agama yang mencintai perdamaian. Dengan langkah inilah Islamofobia yang tumbuh di Barat bisa dikikis.

Media Islam perlu bergandeng tangan untuk memerangi ekstremisme juga penting untuk dilakukan. Selama ini, sebagian media Barat kerap mengidentikan terorisme dengan Islam. Propaganda inilah yang harus dilawan media-media Islam dengan pemberitaan yang membuktikan bahwa Islam adalah agama damai dan tak mendukung ekstremisme.

Media-media Islam pun harus bersama-sama menggelorakan pentingnya persatuan umat Islam. Karenanya, setiap media Islam harus saling mendukung dan menguatkan, tak saling menyerang dan menyalahkan. Sikap saling menyerang antara media Islam justru hanya akan melemahkan umat Islam itu sendiri.

Di era ini, media Islam harus terus berbenah diri agar tampil lebih profesional. Media-media Islam harus dikelola dengan sumber daya manusia yang berkualitas. Selain itu, penting bagi media Islam untuk menyampaikan informasi yang berimbang, sesuai dengan fakta. Dengan begitu, media Islam bisa diterima dan dipercaya masyarakat.

Media-media Islam tak mungkin akan berkembang tanpa dukungan umat. Inilah saatnya media-media Islam bersatu dengan dukungan penuh dari seluruh umat. Tanpa itu, umat Islam bakal terus terpinggirkan.

Pandangan anda terhadap media yang bekerja atas dasar bayaran?
Berdasarkan laporan, Dewan Pers menerima sebanyak 750 pengaduan dari masyarakat terkait media massa selama 2016. Sebanyak 90 persen dari pengaduan tersebut untuk media arus utama dan sisanya media abal-abal. Sebagian besar dari masyarakat, nomor dua dari birokrasi.

Ada udang di balik batu kondisi pers saat ini. Di tengah derasnya arus informasi media menjadi mesin propaganda dan hegemoni.  Hal ini disengaja untuk menciptakan suatu opini besar demi memalingkan rakyat dari fakta sebenarnya. Konglomerasi yang terjadi pada media pun semakin menunjukan bahwa kebenaran itu bersifat nisbi. Uang dan kepentingan di atas segalanya. Meski berjuluk media kredibel, namun terkadang pemberitaannya miring. Apalagi jika digunakan untuk menyerang Islam dan umatnya. Ideologi kapitalisme telah menjadi simbol media.

Simbol kapitalisme yang paling menonjol adalah media massanya. Mayoritas orang mendapatkan pandangannya terhadap dunia dari kacamata media. Kita akan sangat sulit melawan begitu gencarnya opini yang diciptakan secara linear dan tidak ada satu pembanding. Serta nyaris tidak ada pembanding. Kalau kita mencari sesuatu dan melemparkan satu counter opini saja, habis-habisan dibabat. Kita menghadapi satu leburan isu yang terus menerus secara berkesinambungan disampaikan kepada publik. Demokrasi selalu menerapkan kebebasan berekspresi tebang pilih.

Media massa nasional tidak dimiliki oleh satu entitas yang homogen (monolitik) yang memiliki agenda yang sama dalam menyebarkan pandangannya. Sebaliknya, ada beberapa faksi yang saling bersaing untuk meningkatkan jumlah audiensnya dan pencapaian nilai komersial. Terkonsentrasinya jumlah kepemilikan terhadap media menghasilkan sistem yang bekerja untuk mempromosikan sekuleriame dan nilai-nilai komersialisasi. Kita akan bisa membaca kecenderungan pemberitaan media massa dewasa ini. Pendangkalan informasi bisa kita lihat sebagai kecenderungan umum yang dilakukan oleh media massa. Pemilihan berita-beritanya dilakukan atas pertimbangan mengganggu kepentingan pemilik modal atau tidak, sesuai kebutuhan pasar atau tidak. Pasar menjadi kuasa dan segalanya.

Media massa pragmatis, harus “menawarkan diri” kepada pembaca serta pemasang iklan untuk mempertahankan kehidupannya. Untuk itu, dilakukanlah kompromi-kompromi. Berita sudah tidak murni sebagai informasi innocent, melainkan sudah mengalami polesan promotif, baik dari pengusaha bahkan politisi dan merembes ke selebritas. Sisi lemah ini kemudian dijadikan alat oleh siapa pun, termasuk untuk membuat orang tak dikenal menjadi terkenal.

Bagaimana dengan media-media sinis terhadap Islam, haruskah kita meng-counter mereka?
Yang perlu kita catat bahwa sumber kebencian media sekuler dan akar penyebab kebencian terhadap Islam ini adalah karena landasan kepentingan ideologis Kapitalisme. Dasar pemikiran ini tidak hanya menolak pengaturan kehidupan oleh tuntunan wahyu, tetapi juga berjuang untuk mematikan setiap usaha yang terkait dengan penerapan wahyu. Maka, sekularisme menuntut agar agama dibatasi dalam ranah privat saja. Islam, di lain pihak, sangat menentang ide seperti itu. Islam menuntut bahwa Syariah diterapkan tidak hanya di ranah privat tapi juga di lingkup publik.

Sumber pencitraan Islam yang negatif adalah bersifat Ideologis. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa prinsip dasar Islam berlawanan dengan Kapitalisme. Dengan demikian, bisa dipahami adanya jurnalis yang kritis terhadap Islam, yang sekadar mengikuti trend anti-islam, atau yang  bertindak sebagai oportunis. Tidak heran apabila produk jurnalisme yang ada terkesan tidak cerdas. Tentu saja kita tidak perlu terkejut dengan adanya media yang anti-Islam. Banyak sekali contoh bias media dalam peliputan berita.

Bukan tidak mungkin, dalam percaturan politik nasional, ketika media massa telah dijadikan alat propaganda untuk kepentingan menyerang Syariah Islam dan umat Islam. Isu disebar dan media massa -atas nama kebebasan-melahapnya sebagai sajian berita yang dianggap layak jual. Maka korporasi media lah yang sebenarnya memiliki pengaruh terpenting dalam industri media nasional. Keberadaan opini di Indonesia yang secara umum memang tidak berpihak pada penegakan syariah Islam, akan sangat tidak logis bagi korporasi media manapun untuk mendukung penegakan syariah Islam.

Arus yang dibawakan oleh media mainstream saat ini mengakibatkan banyak penyematan yang buruk terhadap umat Islam sehingga pembaca menilai biang dari segala konflik atau permasalahan adalah umat Muslim. Sebagai contoh, kejadian Paris Attack yang terjadi 13 November 2015 lalu. Tersangka utama yang diduga pelaku pembantaian tersebut adalah umat Muslim. Padahal banyak kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di balik kejadian tersebut. Sebagai balasannya pun pesawat tempur Perancis menyerang basecamp ISIS, namun kenyataannya pesawat tersebut mengenai warga sipil yang ada di Suriah. Lagi-lagi umat Islam menjadi korban dari skenario yang diaruskan oleh media.

Harapan anda kedepan untuk media Islam bagaimana?
Di masa depan, dengan adanya konvergensi media, internet dan televisi akan menyatu. Inilah potensi yang juga harus dikembangkan oleh media Islam. Selain faktor penguasaan media, yang juga sangat mendesak adalah perlunya membekali umat dengan pemahaman akan media massa dan lingkupnya (jurnalisme dan analisis wacana). Pendidikan jurnalistik perlu diberikan kepada pelajar-pelajar muslim sejak usia muda. Dengan melatih mereka untuk membaca dan menulis secara tekun, akan membawa mereka pada penguasaan wacana. Kelak diharapkan akan lahir jurnalis-jurnalis yang mengusung Islam sebagai pandangan hidup. Yang mampu memilah dan mengecek kebenaran sebuah fakta. Melakukan verifikasi dengan landasan kejujuran.

Umat Islam juga perlu membentuk media watch. Lembaga ini akan menjadi garda terdepan dalam melihat perkembangan media massa, menganalisis wacana yang diusung oleh media-media sekuler, menggunakan pisau analaisis wacana dengan perspektif Islam. Bahkan jika diperlukan dapat membongkar ketidakjujuran dalam berita yang dilakukan oleh media massa. Penggunaan dana dari umat, untuk lembaga seperti ini setidaknya mampu membuat media watch ini memainkan perannya lebih leluasa dan bebas dari intervensi.

Hanya dengan menguasai media massa, maka umat Islam akan terbendung dari wacana menyimpang yang ditelurkan media-media sekuler.  Media massa seharusnya menjadi ladang untuk menyeru pada kebaikan dan membasmi kemungkaran. Media massa sudah sepatutnya menjadi corong dakwah untuk kebaikan masyarakat luas.[]

| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close
Banner iklan disini