Trending Topic

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Post Page Advertisement [Top]


Muhammad Rifqi bin Umar Aidid, atau yang kerap disapa Rifqi Aidid ini berasal dari Solo, Jawa Tengah. Perawakannya yang khas dengan suara emas sering kali menjadi sorotan kamera saat acara Dalwa Bersholawat berlangsung. Banyak yang menyebut bahwa Rifqi Aidid adalah munsyid kesayangan Abuya Zain bin Hasan Baharun. Terbukti, Rifqi berulangkali menemani Abuya dalam acara-acaranya. Ia juga beberapa kali menemani munsyid ternama asal Mesir; Musthofa Atef dalam kunjungannya ke Indonesia. Di luar pondok, Rifqi juga sering mendapat undangan ke luar kota, salah satunya saat acara Tabligh Akbar bersama Habib Segaf Baharun di Jawa Barat. Rifqi juga pernah mendapat undangan maulid di Banjar.
Pria kelahiran Jakarta, 16 September 1999 ini merampungkan jenjang pendidikan SD- SMP di SD dan SMP Diponegoro Solo. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk merantau, melanjutkan pendidikannya di MA Dalwa Bangil Pasuruan sambil menimba ilmu agama di ponpes Dalwa.
Sejak usia dini Rifqi sudah akrab dengan qosidah-qosidah bernafaskan islam. Ilmu berqosidahnya ia peroleh langsung dari Habib Muhsin Al Atthos, salah satu munsyid ternama di kota Solo. Sore sekitar pukul 16.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB Rifqi menyedot ilmu berqosidah dari beliau setiap harinya.
Menginjak usia SMP, Rifqi memulai debutnya di Ahbabul Mukhtar, salah satu jam’iyyah dufuf (rebana) di Solo, tiga tahun ia habiskan di sana. Selain itu Rifqi juga tergabung dengan Jam’iyyah Ahbabul Musthofa di bawah naungan Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf selama tiga tahun. Total selama enam tahun ia habiskan bersama dua grup; Ahbabul Mukhtar dan Ahbabul Musthofa. Dari sana ia dapat banyak pelajaran, salah satunya tentang perbendaharaan qosidahnya.
Hijrah ke pondok tak membuat Rifqi kehilangan wadah berqosidahnya. Di pondok, Rifqi menemukan wadah baru; Jamiyyah Anwarul Muqtafa Assaja’ah. Grup yang anggotanya terdiri dari anak-anak Jawa Tengah ini sudah menaungi Rifqi selama tiga tahun lebih.
Kiblat Rifqi dalam berqosidah tak jauh-jauh dari kampong halamanya. Yang pertama adalah gurunya sendiri; Habib Muhsin Al Atthos. Gurunya ini tak pernah jatuh nada saat mengambil nada tinggi. Hal ini membuat beliau patut dijadikan sebagai panutan. Kedua adalah Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf. Selama bersama beliau, Rifqi tak pernah melihat beliau mengalami serak pada suaranya.
Berdakwah serta untuk mengajak masyarakat cinta pada Nabi Muhammad membuatnya selalu termotivasi untuk terus menjadi munsyid. Rifqi berharap kawan-kawan munsyid di Dalwa juga mempunyai motivasi yang sama. Harapan lainnya, agar kawan-kawan selalu menyenangkan para pecinta qosidah serta sesering mungkin berlatih. Muayyad/Red


| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close