Karya Santri

Bahasa Arab

Resensi

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Dalwa File

Event

Wawancara

Santri Prestasi

Post Page Advertisement [Top]


            “Tak Kenal Maka Tak Sayang” itulah kata pepatah yang sangat akrab di telinga. Begitu populernya kata bijak ini sehingga seseorang sering menggunakannya sebagai pembuka pembicaraan dalam mendekatkan diri pada seksama, kedekatan menjadi awal untuk bertambahnya kedekatan.
            Tidak semua orang sukses berasal dari orang yang cukup dalam segi finansialnya. Sebut saja Abdul Adzim santri dari Kamboja yang menimbah ilmu di pondok pesantren Darullughah Wadda’wah, pria kelahiran Kampong Cham 8 Agustus 1996 ini telah menyelesaikan hafalan Al Quran 30 juznya. Hal ini merupakan karunia Allah yang sangat istimewa untuknya.
            Awal mulanya, Srim (pangilan masa kecil Abdul Adzim) sama sekali tidak bisa membaca Al Quran, hingga suatu saat ia meminta kepada orang tuanya untuk diajari membaca Al Quran, Ia juga pernah meminta untuk diajari praktek shalat dan doa-doanya tetapi semua harapan itu pupus seketika karena orang tuanya tidak bisa tuk mengajarinya. Lambat laun niatnyapun semakin membuncah untuk masuk pondok pesantren, iapun memberanikan diri untuk berangkat kekampung sebelah hanya untuk mencari ilmu, setelah setahun menimbah ilmu akhirnya ia mampu untuk membaca Al Quran, akhirnya iapun bisa membaca Al Quran saat itu ia berusia 13 tahun.
            Kemudian Abdul Adzim mengikuti tes beasiswa untuk melanjutkan menuntut ilmu di Malaysia. Singkat kisah, iapun berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Tetapi orang tua Abdul Adzim tak mampu membiayai pengurusan visa dan paspor untuknya, orang tuanya pun tak berputus asah sampai disitu, orang tuanya berkeliling kampung untuk meminta sumbangan demi Abdul Adzim menuntut ilmu di negeri Jiran. Inilah bukti pengorbanan orang tua untuk anaknya.
            Di Malaysia Abdul Adzim memulai menghafal Al Quran, Adapun waktu menghafalnya yaitu sebelum shalat ashar, setelah shalat ashar, sebelum shalat maghrib dan setelah shalat maghrib sehingga hafalannya pun mencapai dua lembar perhari, juga tak jarang Abdul Adzim hafal hingga setengah juz. Adapun waktu murajaahnya yaitu setelah shalat Isyadan setelah shalat subuh.
            Tercatat setelah 1 tahun 1 bulan pria tampan berkulit putih ini berhasil menghatamkan hafalannya di umur 15 tahun. Iapun mendapatkan pujian dari asatidzah di pesantrennya, “sebenarnya bukan dari hafalan saya kuat tetapi tetapi karena saya ijtihad dan tak pernah membuang waktu” Terang ia ketika didatangi wartawan LPM.
            Selang beberapa lama, timbul dalam hatinya keinginan belajar bahasa Arab, iapun menghubungi salah satu ustadznya di Kamboja, ternyata sang Ustadz menunjukkan salah satu pondok pesantren yang berbasis bahasa Arab yaitu Darullughah Wadda’wah. Al Marhum H. Amir menjadi perantara ia mondok di Dalwa, akhirnya impian bisa terwujud untuk belajar bahasa Arab di Dalwa setelah penantian selama 5 bulan.
| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close
Banner iklan disini