Trending Topic

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Post Page Advertisement [Top]


Memasuki abad XXI, yang dikenal dengan era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan pengetahuan dan teknologi, khususnya dibidang telekomunikasi mengakibatkan dunia tanpa batas. 
Dengan adanya dunia tanpa batas (Borderless World), perdagangan bebas, dan dunia yang terbuka, maka umat manusia bisa lebih saling mengenal kemampuan suatu bangsa, saling mengetahui kekayaan dan kebudayaan bangsa lain. Maka dengan sendirinya manusia semakin memperoleh pengetahuan yang lebih banyak dan horizon yang luas.
Pengetahuan terhadap keadaan kebudayaan lain sangat transparan yang dapat mempengaruhi kepribadian masyarakat Indonesia yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab. Budaya-budaya barat khususnya dan luar negeri umumnya dengan mudah memasuki areal wilayah budaya Indonesia dan mempengaruhi bahkan diserap atau dipakai oleh bangsa Indonesia. Unsur budaya asing yang sesuai dan positif menjadi kekayaan khasanah budaya kita, tetapi yang negatif dan tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia menjadi tantangan dan, "masalah sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan moral. Masalah tersebut merupakan persoalan, karena menyangkut tata kelakuan yang immoral, berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak".
 Indonesia sebagai Negara berkembang dengan mayoritas penduduk islamnya terbesar didunia telah menjadi suatu sumber kekuatan yang sangat besar dalam mempertahankan kedaulatannya. Akan tetapi, jumlah yang besar, penduduk yang kuat, tidak cukup untuk menjadi barometer sebagai sebuah kesuksesan dakwah islam dalam negri itu sendiri saat ini. Diantara masalah-masalah sosial yang berhubungan langsung dengan pendidikan adalah perkelahian antar pelajar, penyalahgunaan narkotika, alkoholisme, kenakalan remaja dan sebagainya.
Krisis moral dan akhlak ini menjadi suatu problem yang sungguh sangat sulit untuk dipecahkan oleh bangsa yang mayoritas Islam ini, karena krisis moral bangsa berdampak dengan kedaulatan yang sudah dibentuk sejak 71 tahun yang lalu, dalam ruang lingkup PANCASILA.
            Indonesia sebagai bangsa yang memiliki martabat yang tinggi seharusnya dapat menetralisir problematika viral tersebut, karena secara garis besarnya, Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim terbesar didunia. Sungguh sebuah kenyataan yang sangat mengecewakan jika Indonesia tidak bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi bangsa lain dalam hal moral dan akhlak, karena Rasulullah SAW sebagai suri tauladan bagi umatnya sangat menekankan pendidikan moral bagi umatnya, karena itulah beliau diutus untuk menyempurnakan budi pekerti atau moral yang baik.
            Telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi krisis moral bangsa kita ini, salah satunya adalah kurikulum setiap jenjang diatur sesuai dengan keperluan moral setiap siswa, akan tetapi hingga saat ini krisis ini tidak kunjung terselesaikan, bahkan sebaliknya, yang harusnya moral kita tingkatkan, tapi malah makin bobrok dan mundur.
            Maka dari itulah, dunia kepesantrenan yang menjamur di seantero Indonesia ini mulai berbondong-bondong membantu pemerintah untuk mengembalikan moralitas siswa dan pemuda Indonesia untuk menjadi seorang generasi penerus yang pantas untuk diharapkan. Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang memiliki karakter mulia dan sepantasnya bagi kita ummat Islam untuk meniru dan mengambil suri tauladan dari beliau, karena budi pekerti yang baik sudah ada pada diri beliau sejak beliau masih balita, sehingga perjalanan hidup beliau patut untuk kita jadikan barometer pendidikan moral pada saat ini.
Pada kali ini al-faqir, mengajak para pembaca untuk memfokuskan proses bimbingan moral melalui pendidikan akhlakul karimah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW, yang mana beliau pernah berkata :

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق (الحديث)
Artinya: sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti atau moral.
Atas dasar tersebutlah al-faqir berasusmi bahwa siroh nabawi mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap pendidikan moral yang menjadi momok yang sangat berat dihadapi oleh negeri kita saat ini, karena sikap amoral siswa sudah sangat banyak terjadi, yang mana salah satu pemicu banyak terjadinya kerusuhan antar sekolah dan siswa adalah dikarenakan sikap amoral mereka yang telah ditanamkan oleh para senior, dan hal tersebut harus kita lawan dengan pendidikan moral ala Nabi Muhammad SAW.
Karakter dalam perspektif Islam bukan hanya hasil pemikiran dan tidak berarti lepas dari realitas hidup, melainkan merupakan persoalan yang terkait dengan akal, ruh, hati, jiwa, realitas, dan tujuan yang digariskan oleh akhlaq qur’aniah, dengan demikian, karakter mulia merupakan sistem perilaku yang diwajibkan dalam agama Islam melalui nas al-quran dan Hadits serta perilaku Nabi Muhammad SAW selaku pembawa risalah.
Secara simplisit mungkin terkesan terlalu sederhana, jika problem-problem yang sebesar itu alternatif solusi dikembalikan kepada siroh Nabawi saja, mengingat susunan siroh tersebut sangat sederhana, lagi pula siroh merupakan catatan sejarah yang diproduk beberapa abad yang lalu, dimana komunitas masyarakatnya pun masih sangat sederhana. Namun, yang perlu diingat jangan hanya melihat susunan teks siroh yang sederhana itu, upaya pemahaman lebih lanjut terhadap siroh tersebut dianggap perlu. Mengingat adanya signifikansi nilai-nilai edukatif di dalamnya bagi pendidikan karakter. Karenanya siroh tersebut perlu ditelaah lebih mendalam dan dianalisis lebih tajam guna mengembangkan pendidikan moral yang digadang-gadang oleh pemerintah, salah satunya dengan cara mengaplikasikan siroh nabawi sebagai proses bimbingan moral siswa.
 Dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.
Dapat difahami dari undang-undang itu bahwa tujuan pendidikan Indonesia adalah pendidikan yang berkarakter dan bermoral.  Berdasarkan tujuan pendidikan nasional, salah satu upaya sekolah dalam rangka meningkatkan mutu lulusan siswanya adalah dengan menanamkan aspek kepribadian kepada setiap siswa. Aspek kepribadian ini merupakan nilai-nilai dasar yang berhubungan dengan sikap dan perilaku. Untuk mencapai dan memiliki kepribadian yang mantap, diperlukan kepribadian siswa yang disiplin, giat, gigih, dan tekun.
            Dari uraian diatas, alangkah indahnya jika seluruh sekolah dinegri kita yang kaya ini dapat benar-benar menanamkan sikap moralitas kepada para siswa mereka melalui keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan yang mulia dan sebagai seorang figur yang pantas untuk ditiru dan dijadikan panutan seperti halnya yang dilaksanakan dalam dunia pendidikan kepesantrenan, Semoga pendidikan Indonesia mampu menggapai tujuan utama mereka untuk mengembangkan potensi peserta didik yang memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Penulis : Suyuthi  (Mahasiswa IAI Dalwa Bangil Pasuruan) yang berasal dari Banjarmasin KALSEL
| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close