Karya Santri

Bahasa Arab

Resensi

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Dalwa File

Event

Wawancara

Santri Prestasi

Post Page Advertisement [Top]


Bukan rahasia umum lagi kalau riset menyatakan minat baca masyarakat Indonesia di bawah rata-rata Negara-negara lain. Ini bukan tanpa bukti. Buktinya, banyak perpustakaan di Indonesia yang ramai dengan buku, namun sepi pengunjung. Yang ada, perpustakaan itu mendapat tamu debu yang mengisi celah-celah buku. Bandingkan dengan yang fenomena di Negara-negara lain yang terbilang maju. Masyarakatnya tak segan membaca buku di tempat umum, bahkan di kendaraan umum sekalipun.
            Sebagaimana dilansir http://www.beritasatu.com/kesra/252905-persentase-minat-baca-masyarakat-hanya-001.html, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, budaya membaca sampai saat ini masih sulit diterapkan dan masih rendah. Berdasarkan data UNESCO, persentase minat baca Indonesia sebesar 0,01 presen.
            "Ini berarti dari 10.000 orang hanya satu saja yang memiliki minat baca," kata Anies
Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).
            Minat baca yang rendah ini sebenarnya sangat disayangkan. Padahal membaca merupakan tradisi ulama-ulama kita agar memperoleh ilmu. Kita bisa mengambil ibrah dari Imam An-Nawawi yang setiap harinya membaca dua belas pelajaran di hadapan gurunya (Qimatuz Zaman ‘Indal Ulama’: 72). Atau Imam Al Khatthib Al-Baghdadi dan Imam Ya’qub An-Najirami yang membaca ulang pelajarannya sambil berjalan (Qimatuz Zaman ‘Indal Ulama’: 51-52). Ini hanya secuil contoh dari ulama. Yang terpenting, semoga rendahnya minat baca tidak berarti rendahnya perhatian bangsa Indonesia terhadap ilmu.
            Bahkan kalau kita merujuk pada sejarah, bangsa Barat yang saat ini mengalami kemajuan pesat seperti ini karena banyak membaca karya-karya cendekiawan muslim. Padahal, sebelumnya di kurun abad VIII (delapan) sampai XI (sebelas) bangsa Barat mengalami Dark Ages (tahun kegelapan) yang mana kebodohan merajarela di kalangan mereka.
            Nah, tentu sudah menjadi keharusan umat Islam untuk memiliki minat baca lebih dari mereka. Apalagi Al-Qur’an sudah berabad-abad yang lalu membicarakan perkara ini melalui firmanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi; “Iqro’ ” (Bacalah!).
            Dibukukannya Al-Qur’an pada masa sahabat Abu Bakar yang kemudian disatukan pada satu mushaf di masa sahabat Ustman juga menuntut umat Islam agar sering-sering membaca dan memahami Al-Qur’an. Sementara itu, tidak ada sarana untuk memahami Al-Qur’an kecuali dengan membaca kitab Tafsir dan kitab-kitab lainnya yang bersumber dari Al-Qur’an.
            Hanya saja, tersisa di benak kita sebuah pertanyaan. Bagaimana dengan membaca karya-karya fiksi, semisal novel?. Realitanya, anak-anak muda zaman sekarang banyak yang lebih mementingkan membaca buku-buku fiksi ketimbang buku-buku pengetahuan. Dalam hal ini, penulis bersikap membaca karya-karya fiksi tak masalah, karena itu membuat kita terbiasa membaca. Namun dengan catatan, harus diimbangi membaca buku-buku pengetahuan, selain itu karya fiksinyapun yang tidak melanggar norma-norma agama., lebih-lebih buku-buku pelajaran sekolah. Membaca buku-buku pelajaran harus lebih diutamakan. Membaca karya fiksi hanya sekedar untuk mengusir penat.


| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close
Banner iklan disini