Karya Santri

Bahasa Arab

Resensi

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Dalwa File

Event

Wawancara

Santri Prestasi

Post Page Advertisement [Top]



Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Itulah semboyan yang sering kita dengar. Maknanya yang luas membuat persatuan termasuk bagian pokok dalam menjalani kehidupan. Kehidupan yang tak lepas dari masalah menuntut kita untuk menyelesaikannya. Bukan lari darinya. Dalam menjalani setiap lini kehidupan, kita tidak sendiri melainkan banyak orang disekitar yang siap membantu kita ketika membutuhkan. Karnanya, selain dituntut baik hubungan dengan Allah SWT, kita juga dituntut untuk berbuat baik kepada sesama manusia. Sehingga dengan hubungan ini, terdapat korelasi yang positif dan dan diharapkan tumbuh subur disanubari setiap insan.
Memang kita beda suku, budaya bahkan agama. Tapi itu semua jangan dijadikan alasan  atas gugurnya persatuan. Kita terlahir dari perbadaan yang mempunyai fungsi saling melengkapi satu sama lain. Persatuan yang merupakan syarat kemajuan merupakan elemen utama yang tidak boleh ditinggalkan oleh setiap individu. Lihatlah persatuan erat yang dipertontonkan antara kaum Muhajirin dan Anshor 14 abad yang lalu. Mereka merasa saling memiliki sampai-sampai  kaum Anshor rela membagikan setengah hartanya untuk diberikan kepada sahabat Muhajirin. Bahkan tak tanggung tanggung. Istrinya sekalipun rela mereka cerai untuk diberikan kepada kaum Muhajirin.
                Kalau dikatakan persatuan merupakan kunci kekuatan itu adalah benar. Secara historis kita lihat Indonesia yang terjajah selama 3,5 abad ditambah dengan 3,5 tahun baru bisa merdeka setelah para pendiri bangsa benar-benar bersatu. Persatuan yang dianalogikan seperti sapu lidi yang tidak bisa digunakan untuk menyapu kecuali setelah lidi-lidi disatukan dan akan patah ketika kita menggunakan hanya dengan satu helai lidi. Kita lihat hal sepele sekalipun tetap butuh persatuan. Bagaimana dengan hal yang lebih besar? Sebuah organisasi dari lingkup terkecil hingga terbesar sekalipun tidak akan maju dan sukses tanpa adanya persatuan. Sebagai contoh para pemain bola yang saling bahu membahu agar dapat membobol gawang lawan. Mereka bersatu, satu visi dan misi guna meraih kemenangan. ketika kita ada persamaan satu tujuan maka yang akan kita lakukan adalah bagaimana agar tujuan kita bisa tercapai.
Karena dengan persatuan yang kuat kita dapat memperdekat arah tujuan. Sebagai perbandingan ketika kita pergi ke desa, balutan persatuan akan mudah ditemui bebarengan dengan riset yang kita lakukan. Kegiatan sosial seperti gotong royong seperti kerja bakti dan lain sebaginya ditambah dengan acara tahlil rutinan warga dari rumah ke rumah menambah nuansa persatuan yang begitu kental. Hal ini lebih dominan sering dilakukan di daerah pedesaan daripada wilayah perkotaan. Sosial yang tinggi merupakan ciri khas pedesaan yang terjaga hingga kini.
Penulis menggambarkan keadaan desa disini, bukan berarti menafikan keadaan sosial masyarakat perkotaan. Sekali lagi tidak, Tapi ini berdasarkan sosial eksperimen yang penulis lakukan, sosial yang tinggi lebih dominan dipraktekkan oleh masyarakat desa dibanding di kota.
                Masyarakat Indonesia jika boleh penulis katakan merupakan negara yang mempunyai sosial tinggi. Artinya cara interaksi dan sosialisasi mereka tergolong baik karena selama ini masih berkiblat kepada adat ketimuran yang tidak bersifat individualisme. Ditengah keadaan Indonesia yang banyak dipisahkan oleh luasnya lautan ditambah dengam aneka ragam suku, budaya dan agama tidak menjadikan alasan bagi Indonesia untuk tidak bersatu. Alhamdulillah sampai saat ini, kita bisa dapati Indonesia berada dalam keadaan aman sebab persatuan yang masih terjaga.
Seandainya masyarakat Indonesia tidak bersatu mungkin sampai saat ini kita tidak merasakan manisnya kemerdekaan  dan seandainya masyarakat Indonesia mempunyai sifat egois tinggi, sudah dapat dipastikan sampai sekarang kita masih akan merasakan pahitnya penjajahan. Bagaimana tidak, sebagai sebuah permisalan apabila Jawa sangat egois dengan budayanya, begitupun Sunda dan lain sebagainya sehingga mereka menerapkan aturan negara sesuai dengan adat budayanya untuk ditaati oleh seluruh rakyat Indonesia. Tapi nyatanya tidak. Mereka tetap bersatu dalam naungan NKRI. Bahkan mereka juga turut andil dalam usahanya untuk mengeluarkan Indonesia dari jurang kolonialisasi. FahriYahya/red

| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close
Banner iklan disini