Trending Topic

Bahasa Arab

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Karya Santri

Post Page Advertisement [Top]



Oleh: Afinisme Author*
            “Piccolo double shot, dua.”
            “Latte dan matcha latte, next.” Bari setengah mengangkat suara.
Yup!” Nina tersenyum seraya meletakkan empat demitasse di meja eksekusi toples-toples berisi bubuk kopi, vanila, sirup coklat dan kaleng whipped cream. Aroma coklat vanila kopi menguar di ruangan itu. Meski agak kikuk, Nina berusaha melakukan teknik Pour over dengan baik.
“Pelan-pelan.”
Bari muncul di belakang Nina dengan seulas senyum. Pria itu mengamati istrinya seraya melipat tangan. Perempuan yang terlihat sangat memesona di mata Bari, anggun dalam balutan jilbab dan apron pink.
Dua tahun yang lalu, ia menawarkan sebuah kesetiaan cinta berupa akad dan kehidupan bersama. Saat itu, Bari seorang mahasiswa jurusan humaniora yang menyambi sebagai barista di sebuah kafe kecil pinggiran kota. Bari dan Nina tak sengaja bertemu dalam even bazar kampus tahunan. Dalam hitungan bulan memendam perasaan, mereka akhirnya bertemu di pelaminan setelah Bari berani menemui sang ayah.
“Piccolo double shot, latte dan matcha latte pesanan Sang Barista sudah siap.”
Nina meletakkan sebuah nampan berisi empat demitasse dengan isi berbeda.
Bari kembali tersenyum lalu menyesap pelan, menikmati sensasi kopi yang merayapi lidah. Nina tak sabar menunggu komentar sang suami. Sudah empat hari ia mencoba meracik minuman tersebut. Dari Pour over sampai Cold brew, dari cappuccino, latte hingga macchiato. Kafe tidak akan buka sebelum Nina pandai meracik kopi seperti Bari. Itu rencana mereka berdua.
Dua jempol Bari terangkat, Nina tertawa puas.
“Tapi kayaknya, matcha latte-nya kurang,” jelas Bari sembari menatap bola mata Nina.
“Kurang apa?”
“Kurang kasih sayang dari kamu! Hahaha.”
Bari bangkit, menghindari serangan cubitan Nina dengan wajah merah merona malu. Sesaat mereka berdua tergelak bersama di pagi menjelang siang. Tiba-tiba dering notifikasi terdengar dari gawai Bari. Sebuah pop-up bertuliskan “Bapak” muncul. Bari dan Nina saling pandang.
***
            Malam itu Kiai Adib duduk termenung di meja makan. Piring berisi bandeng goreng, sambal matah dan tumis kangkung panas mengepul tak dijamah sama sekali. Bu Nyai yang sibuk membolak-balik tempe goreng di wajan sesekali menatap cemas. Ia mengkhawatirkan asam lambung suaminya naik lagi. Sejak pagi, sesuap nasi pun belum disentuh. Bu Nyai tahu, suaminya memikirkan anak semata wayang mereka.
            “Makan dulu, Pak. Jangan terlalu dipikirkan.”
Bu Nyai duduk, meletakkan piring tempe goreng panas di atas meja. Kiai Adib masih diam.
“Bagaimana aku ndak kepikiran, Bu. Meskipun keseharianku terlihat energik, aku sudah tua. Lha wong anak satu-satunya. Ndak mungkin aku menyerahkan urusan kepemimpinan pesantren ini ke orang lain.”
Nyai Khodijah diam. Perempuan itu kini juga kehilangan selera makan. Ia merasa perkataan suaminya tidak ada yang salah. Wajar, jika seorang ayah menginginkan anaknya meneruskan perjuangan kerasnya selama ini. Apalagi berupa “ladang” akhirat.
“Aku yakin Abdul Bari bisa mengemban amanah ini. Ilmunya mumpuni. Jiwanya mandiri. Hanya saja, kenapa dia lebih memilih jadi tukang seduh kopi?” Kening Kiai Adib mengkerut. Heran. Tadi pagi ia sempat mengirimkan pesan singkat perihal amanahnya tersebut. Tak ada balasan sama sekali.
Nyai Khodijah juga mengingat-ngingat masa kecil anaknya dulu. Bari memang tidak suka diperlakukan berlebihan oleh santri-santri bapaknya di area ndalem. Anak itu selalu menolak untuk lewat di area pesantren. Ia lebih suka memutar lewat pintu belakang daripada risih menyaksikan semua santri berdiri berderet-berderet dengan wajah menunduk, saat ia berjalan. Seandainya Bari mau, jari telunjuk bisa menjadi mesin pengendali para santri. Minta ini itu. Suruh sana sini. Pasti dituruti. Ke mana pun selalu diikuti dan dijaga. Bari menganggap hal itu membuatnya tidak leluasa. Tidak bebas. Terkadang sandalnya pun selalu dipegangi. Sering Bari malu sendiri ketika berpapasan dengan teman-teman sekolahnya.
 “Aku malu, Bu. Aku bukan anak kecil lagi,” keluh Bari waktu itu.
“Mereka memperlakukanmu begitu untuk ngalap berkah, Le. Menghormati anak guru sama nilainya dengan menghormati guru mereka sendiri.”
“Aku tetap tidak suka. Ngalap berkah ya sama Bapak, bukan sama aku.” Ia kembali bersungut-sungut.
Nyai Khodijah tetap diam seraya tersenyum. Sesekali ia usap kepala anak semata wayangnya dengan lembut. Watak anak ini memang berbeda dengan sebagian anak-anak kiai lain. Lebih suka berteman dan bermain dengan anak-anak kampung sekitar daripada bermain di area pesantren.
“Bu ... ?” panggil Kiai Adib.
“Eh ... Iya, Pak?” Nyai Khodijah menggeragap.
“Melamun juga tho rupanya?”
Perempuan itu hanya tersenyum. Lalu buru-buru mengambil nasi dan menyendok tumis kangkung yang tidak panas lagi. Di sunyi malam tersebut, Kiai Adib dan istrinya berusaha menyuap nasi, pelan diiringi perasaan yang tak menentu.
***
            “Sebaiknya Mas turuti saja kemauan bapak.
Nina mengaduk kopi panas seraya menatap suaminya. Bari masih diam. Tangannya masih memegang gawai dengan layar menyala berisi pesan bapak.
Perempuan itu tahu persis dilema yang menimpa suaminya. Antara keinginan menjadi barista handal dengan banyak cabang kafe atau memenuhi amanah bapak, memimpin pondok pesantren peninggalan kakeknya. Bisa saja ia memenuhi permintaan itu. Karena terlahir di lingkungan pesantren, tak heran pendidikan yang mengakar kuat di dalam dirinya adalah pendidikan agama. Ia juga berpikir, buah jatuh tak mungkin jauh dari pohonnya. Pokok jambu pastilah membuahkan jambu. Di satu sisi Bari juga ingin mengejar keinginannya sendiri. Kalau akhirnya menjadi seorang kiai, lalu untuk apa skill barista yang selama ini ia pelajari?
Pria itu sering bercerita bahwa ia sudah bosan dengan lika-liku dunia pesantren. Bergelut dalam lembaran kitab kuning, tetes tinta dan segala kepenatan yang tidak bisa ia jumpai di manapun. Apalagi untuk menjadi seorang pengasuh pondok. Terlalu berat.
Bari ingat perjuangan bapaknya dulu ketika awal merintis pesantren. Dari cemoohan, hinaan, fitnah sampai hal-hal yang berbau ilmu hitam seperti santet dan teluh beliau dapatkan. Sampai suatu ketika cobaan terberat waktu itu ketika Kiai Adib dituduh sebagai penyebar ujaran dan ajaran kebencian oleh oknum-oknum yang tak suka dengan dakwah sang kiai.
Seraya mengusap air mata, semua santri  menatap lesu ketika kiai mereka dijemput oleh pihak yang berwajib. Warga seketika gempar melihat tokoh masyarakatnya tiba-tiba ditangkap. Kalau saja tidak dinasehati Kiai Adib waktu itu, maka bentrokan warga dan petugas kepolisian tidak bisa dihindari.
 Banyak di antara sahabat-sahabat Kiai Adib yang berprofesi sebagai pengacara menawarkan diri untuk menuntaskan masalah ini. Namun beliau menolak dan lebih memilih bersabar balik jeruji. Saat itu kepemimpinan sementara diambil alih oleh Nyai Khodijah sendiri.
“Aku ingin kelak amalku setara dengan jerih payahku, Bu,” ucap Kiai Adib dengan mata berkaca-kaca ketika dikunjungi istrinya dan Bari waktu itu.
“Kalaupun tak pantas, aku berharap dengan perjuanganku sekarang bisa mengetuk rahmat Allah kelak. Sebagaimana setetes tinta Imam Ghazali untuk lalat yang kehausan. Atau seciduk air di dalam sepatu dari seorang pelacur untuk anjing yang dahaga.”
Dalam linangan air mata dan kerinduan, mereka saling berpelukan saat sipir penjara memberitahukan bahwa waktu berkunjung telah habis. Mereka semua hanya bisa berpasrah. Setiap masalah yang menimpa anak cucu Adam pasti ada jalan keluar yang telah Allah siapkan, ibarat sebuah gembok besi lengkap dengan anak kuncinya.
Tiba-tiba telepon rumah berdering. Bari masih bergeming menatap pesan bapak. Nina akhirnya beranjak dari kursi.
AssalamuAlaikum. Iya, ini Nina, Bu.”
Sayup-sayup terdengar suara perempuan dengan intonasi cemas di gagang telepon.
Bari melirik istrinya dengan perasaan tidak enak.
***
            Hujan turun tiba-tiba dengan kilat sesekali membelah hamparan langit hitam. Bari dan Nina melangkah tergesa-gesa di sepanjang koridor rumah sakit. Sesekali ia berpapasan dengan perawat yang sibuk melayani pengunjung, lalu menanyakan letak kamar 105. Hari itu Nina mendapat telepon dari Nyai Khodijah, mengabarkan bahwa Kiai Adib masuk sakit. Asam lambungnya kambuh lagi.
Senyap berkuasa. Hanya terdengar sayup-sayup rintik hujan menghempas genteng. Kiai Adib terbaring lemas. Nyai Khodijah duduk di samping brankar, mengupas apel. Nina sibuk memotong-motong roti yang ia bawa dari rumah.
 Bagaimana kafemu, Le? Kiai Adib memulai pembicaraan, pelan. Selang infus melintang di sisi kirinya.
Alhamdulilah, Pak. Sudah mulai ramai.”
Bari menatap lekat wajah lelaki itu, kerutan tua telah menggambarkan betapa lamanya ia membunuh waktu dan mengarungi getir kehidupan. Mengerahkan segala nafas, keringat dan raganya untuk pesantren.
“Kapan-kapan ajari bapakmu ini menyeduh kopi yang kaujual. Apa namanya? Cino?”
 “Cappuccino, Pak.”
Kiai Adib tertawa pelan dan Bari hanya tersenyum. Mereka kembali teringat beberapa tahun yang silam saat pertama kali Bari membawa kopi-kopi itu ke rumah. Meracik sendiri lalu menyajikannya untuk Kiai Adib dan Nyai Khodijah. Waktu itu bapaknya berkomentar, bahwa kopi yang ia bawa tidak lebih enak dari kopi tubruk buatan ibunya. Nyai Khodijah hanya menahan tawa. Panjang lebar Bari menjelaskan, bahwa kopi-kopi itu berasal dari negara lain. Kopi modern yang saat ini digandrungi orang-orang. 
“Jadi kapan kamu bisa menggantikan Bapak?”
Bari hanya diam tertunduk.
Sebuah pertanyaan yang mengusik mimpi-mimpinya. Ia kembali ingat pesan kemarin. Juga tentang kafe barunya. Toples-toples berisi biji kopi berbagai varian, susunan demitasse, kaleng-kaleng whipped cream, krimer dan papan tulis hitam dengan tulisan-tulisan menu baru. Semuanya berputar-putar, lenyap lalu menjelma suasana komplek pesantren, lantunan bait-bait Alfiyah, Maqsud dan Zubad beradu, anak-anak bersarung hilir mudik memangku kitab-kitab kuning klasik. Persis seperti dulu.
“Jadi bagaimana?” Kiai Adib mengulang pertanyaan.
Bari tetap enggan bicara. Tak mungkin ia terima permintaan bapak dengan hati terpaksa. Sesuatu yang dilakukan dengan setengah hati kadang membuahkan kekecewaan. Ia benar-benar kalut. Tergantung di antara mimpi dan keinginan orang tuanya.
Le, dengarkan baik-baik nasehat Bapak.”
“Bukan Bapak tidak suka kamu sibuk di dunia perkopian. Silahkan. Bapak tidak melarang. Tapi, Iling sama ilmumu, Le. Emaneman.”
“Buya Hamka pernah bilang: Kalau hidup sekedar hidup, monyet di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kerbau di sawah juga bekerja. Bapak ingin kamu tidak melupakan ilmumu. Tidak mengurungnya dalam dirimu sendiri. Lantas hanya memanennya seorang diri. Bapak ingin ilmumu bermanfaat untuk umat. Membanggakan Kanjeng Nabi, agar termasuk dari umat-umat yang membuat Nabi Musa cemburu.”
***
            Jingga berpendar di langit. Sore itu sesekali angin dingin bertiup. Suasana ruangan Ghahwa kafe terlihat ramai. Aroma vanilla coklat dan kopi tak hentinya menguar di ruangan itu. Di pojok ruangan, Nina masih sibuk mengumpulkan cangkir-cangkir kosong.
“Piccolo double shot dua, pakai voucher ini ya, Mas …” Seorang pria muda menyerahkan kertas kecil berwarna kecoklatan bertuliskan Ghahwa Kafe, tanpa memperhatikan sang barista.
            “Silahkan ditunggu.”
            Pria muda itu mengernyitkan kening, kenal suara itu. Pelan-pelan ia amati barista yang sibuk dengan deretan demitasse dan bubuk kopi. Seketika, pucat piaslah wajahnya seraya berseru, “Kiai …?”
            “Stttt ….” Kiai Adib meletakkan telunjuk di ujung bibir. Menyuruhnya diam.
            “Sejak kapan Sampeyan jadi barista?”
            Pria tua itu tersenyum. Ia amat menikmati “ladang” dakwah barunya. Tidak sia-sia ia belajar menyeduh kopi selama seminggu setelah keluar dari rumah sakit.
Sementara itu di tempat lain, seorang pemuda berwajah teduh terlihat larut dengan jamaahnya. Bercerita  tentang dialog Nabi Musa ketika di gunung Thursina.
“Ada umat yang ketika berniat untuk berbuat baik namun mereka tidak melaksanakan niat tersebut, maka ditulis satu kebaikan. Dan jika mereka melaksanakan niat tersebut, maka akan ditulis 10 sampai 700 kali lipat. Nabi Musa meminta kepada Allah agar umat tersebut dijadikan sebagai umatnya.”
 “Apa jawaban Allah?” Bari melempar pertanyaan.  Jamaah hanya diam dengan tatapan penasaran.
“Yang bisa jawab, saya kasih voucher gratis Ghahwa Kafe selama sebulan loh.”
Sontak disambut  tawa serempak ibu-ibu.
“Maka berfirmanlah Allah, mereka juga umat Muhammad. Dan Nabi Musa pun kemudian memohon: Ya Tuhanku, jadikanlah aku salah satu umat Muhammad."


Glosarium:
Pour Over: Teknik menuang air menggunakan kertas filter tipis untuk menyaring bubuk kopi.
Cold Brew: Menyeduh kopi dengan air suhu ruangan, dan ditampung sarinya selama 18 sampai 24 jam.
Double shot: Dua jenis sirup yang dipesan untuk kopi dingin atau blended atau bisa juga double susunya.
Demitasse: Cangkir kecil untuk menyajikan kopi olahan sejenis espresso.



Pernah dimuat di Republika edisi Ahad 07 April 2019



*Cerpenis penyuka kopi, musim hujan, diksi dan sastra ini adalah pegiat fiksi dari kalangan orang-orang bersarung. Aktif di forum kepenulisan Pena Dalwa, majalah Al-Bashiroh dan Dalwa Berita. Beberapa cerpennya pernah dimuat di majalah Cahaya Nabawiy. Menulis antologi bersama: Sahabat Pena (Pena Dalwa, 2015) dan Soekarno? (Pena Dalwa, 2017). Dua cerpennya dijadikan judul antologi, Melodi Petrichor (Pena Dalwa, 2016) dan Apron Buat Nina (Pena Dalwa, 2017).


| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close
Banner iklan disini