Trending Topic

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Post Page Advertisement [Top]

karyasantrilpmdalwaMuayyadOPINI

Pelajaran Berharga Pasca Pilpres




     Pagelaran Pemilu 2019 belum benar-benar rampung sepertinya. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya. Pagelaran sakral ini akan diwarnai gesekan bahkan benturan keras antara kedua kubu. Benar saja, 22 Mei kemarin, aksi yang mulanya damai berujung pada kerusuhan yang meletus sebab ulah provokator yang tak bertanggungjawab. Pendukung Paslon 01 satu serta-merta menyalahkan pendukung Paslon 02 karena dianggap sebagai biang kerusuhan yang efeknya berujung pada lumpuhnya jaringan medsos. Pendukung Paslon 02 tak mau kalah, kecurangan Paslon menjadi dalih terkuat untuk membela diri.

   Dua kubu yang saling dimotori oleh ulama, membuat kesatuan umat Islam Indonesia terpecah untuk sementara waktu. Tak perlu disebutkan siapa saja ulama itu. Yang jelas dengan kapasitas keilmuan mereka. Mereka Sangat layak mendapat penghormatan. Jangan sampai hanya gara-gara bersebarangan jalan pemikiran, kita su’ul adab, tak beradab dengan seenaknya mencaci mereka.
Kita bisa belajar dari sikap Al Imam Abdul Wahab As Sya’roni ketika menghadapi ulama yang tak sepaham dengannya, yang tak mungkin lagi diberi kepahaman. Beliau menyebut; “Termasuk adab orang-orang saleh adalah mengiyakan perkataan ahli fiqh jika mengingkari adanya para wali dan karamahnya.”

     Kemudian beliau melanjutkan, “Andaikata ahli fiqh mengatakan bahwa wali Quthb, wali Awtad, dan wali Badal itu tidak ada. Aku katakan “iya”. Maksudku itu tidak ada menurutnya (bukan menurutku) Atau seandainya ia mengatakan bahwa para wali telah punah dan tidak tersisa satupun.  

     Aku katakan “iya” menurut keyakinannya (bukan keyakinanku)[1]
Lebih-lebih kalau ulama itu adalah cucu-cucu Nabi Muhammad shallaAllahu ‘alaihi wasallam. Jangan sampai hanya gara-gara Pilpres
kita berani mencaci mereka. Menyakiti mereka sama dengan menyakiti Nabi. Nabi bersabda;

ما بالُ أقـْوام يُؤْذونَني في نَسَبي وذوي رحمي؟! ألا ومن آذى نسبي وذوي رحمي فقد آذاني،
ومن آذاني فقد آذى الله (رواه الطبراني و البيهقي)

“Bagaimana keadaan kaum yang menyakiti aku dalam nasabku dan kerabatku. Ingat! Barang siapa yang menyakiti keturunanku dan orang-orang yang mempunyai hubungan denganku berarti ia menyakitiku”

     Diterangkan dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, bahwa orang yang mencaci ahlul bait maka ia termasuk fasik, dan berhak mendapat ta’zir yang keras. Dan kalau yang dimaksud adalah Bani Hasyim secara keseluruhan, maka ia telah kafir. Kalaupun dia bermaksud masuk Islam lagi, maka harus dita’zir. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bahkan mengatakan bahwa orang itu harus dibunuh secara mutlak, meskipun dia sudah bertaubat. Hal ini karena dia sama saja dengan mencaci Nabi dan lancang terhadap Nabi, dan hal ini kufur menurut ijma’ para ulama.
Sebagai orang awam, orang yang kadar ilmu dan pengalamannya tak lebih dari mata kaki, kita tak perlu banyak komentar dengan sikap para ulama. Al Imam Ibnu Ruslan dalam Nadhom Shofwatuz Zubad-nya mengatakan;

وما جرى بين الصحابي نسكت # عنه وأجر الإجتهاد نثبت

“Kita tidak perlu berkomentar mengenai apa yang terjadi di antara para sahabat. Kita tetapkan pahala ijtihad kepada mereka.”

     Pahala dari sebuah ijtihad, jika ijtihad itu benar adalah dua pahala. Jikalau pun salah, maka ia masih mendapat satu pahala. Para ulama di kedua kubu sedang berijtihad untuk kemakmuran bangsa. Di kubu 01, ada harapan dengan majunya seorang capres dengan background ulama, segala kebobrokan pemerintahan akan teratasi. Di kubu 02 pun tak beda, meskipun paslon mereka tak punya backrground ulama, namun mereka berpegang teguh dengan ulama untuk kemajuan negeri ini.
Kita tanggalkan baju 01 atau 02. Kita rajut ke-bhinekaan dan kesatuan, Kita adalah saudara. Umat Islam adalah saudara yang saling menguatkan satu sama lain layaknya sebuah bangunan. Tak perlu bertikai karena sabda Nabi Al Qaatil Wal Maqtul fin Naar, yang artinya pembunuh dan yang terbunuh kelak akan berada di Neraka. Apapun keputusannya nanti, terimalah dengan lapang dada, dan tetaplah berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan bangsamuayyad/red.



[1] Al Imam Abdul Wahab As Sya’roni, Tanbihul Mughtarin, (Daar Al Kotob Al Ilmiyyah; Lebanon) th 2018 hlm 96


| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close