Trending Topic

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Post Page Advertisement [Top]



Selamat datang di era Revolusi Industri 4.0, dimana sudah mulai kita rasakan segala sesuatu terintegrasi dengan digitalisasi dan teknologi yang berbasis online, dijalankan dengan rangkaian susunan program yang tidak lagi membutuhkan banyak campur tangan manusia. Yang pada akhirnya peran manusia dalam dunia kerja akan tererosi oleh program dan teknologi.
            Disamping dampak yang selalu menghasilkan catatan hitam sejarah yang sama pada setiap Revolusi Industri, yaitu banyaknya pemutusan hubungan kerja karena peran mereka yang digantikan oleh tenaga mesin. Ternyata alam juga memberikan keseimbangan dengan munculnya berbagai profesi baru yang sebelumnya belum pernah ada sebagai solusi dari hilangnya profesi lama yang menuntut untuk menyesuaikan perkembangan zaman.
            Dalam 11 tahun lagi tepat pada 2030 bangsa Indonesia akan mendapat anugrah berupa Bonus Demografi yang hanya terjadi sekali dalam sejarah suatu bangsa. Ini merupakan suatu momen yang perlu dipersiapkan sejak dini. Potensi Bonus Demografi ini jika mampu dimaksimalkan maka sangat memungkinkan Indonesia akan menjadi negara superpower. Beberapa negara yang tercatat mampu memaksimalkan bonus demografi bangsanya sekarang telah menjadi negara yang maju, seperti negara Jepang contohnya. Yang memulai membangun negaranya pada tahun yang sama dengan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, yang kemudian bangsa mereka mendapat Bonus Demografi lebih dahulu dari bangsa kita dan akhirnya pertumbuhan dan peradaban negara mereka melaju pesat mendahului negara kita.
            Disamping anugerah yang Indonesia dapatkan itu, perlu diperhatikan bahwa negara kita yang menduduki negara ke-4 terpadat dengan bentangan alam yang luas dan kaya selalu menjadi incaran dan dimata-matai oleh bangsa lainnya dengan berbagai kepentingan dan alasan yang mereka berikan.
            Populasi penduduk Indonesia yang banyak dan tingkat konsumen yang tinggi menjadikan Indonesia sebagai sasaran pasar global bagi mereka yang ingin memasarkan produk-produk negaranya ke negara kita. Perlu diketahui produk mereka yang terkumpul dalam 3F (fun, food, and fashion) sedang meracuni budaya dan ideologi penduduk bangsa ini.
            Syukur-syukur jika produk yang mereka pasarkan ke negeri ini hanya sebatas itu. Tapi bagaimana bila yang mereka pasarakan berupa narkotika dan kawan-kawannya?
            Entah mengapa masyarakat kita mau mengkonsumsi barang-barang jahat tersebut. Apakah kerena minimnya informasi tentang bahaya narkoba atau karena pergaulan yang tidak sehat atau sebagai pelarian sementara dari dunia dan masyarakatnya yang tidak bisa ramah pada orang-orang yang perlu arahan dan kasih sayang seperti mereka?
            Data yang disampaikan oleh Badan Narkotika Nasional di kabupaten Pasuruan mengungkapkan bahwa setengah lebih dari konsumen narkoba adalah mereka yang sedang duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi dari jumlah seluruh profesi yang ada.
            Generasi muda sebagai tunas yang akan tumbuh besar menggantikan generasi yang telah berumur diserang secara fundamental. Dipukul pada bagian vital yaitu generasi muda bangsa ini dengan narkoba yang merusak jiwa dan raga pemakainya. Jika penyebaran narkoba ini tidak diatasi dan dibiarkan apa adanya. Sudah dapat kita tebak gambaran masa depan bangsa ini di saat-saat Bonus Demografi itu tiba.
            Bangsa yang kuat adalah bangsa yang sehat. Bagaimana Indonesia mampu menjadi negara yang kuat bila penduduknya tidak sehat? Malah teracuni oleh candu dan ketergantungan pada narkoba. Seharusnya di saat Bonus Demografi itu tiba, kita sedang berkarya dan menyusun strategi jangka panjang, bukan malah menangani para pesakitan narkoba yang terbaring diatas ranjang-ranjang.
            Tragis rasanya bila melihat bangsa ini dihancurkan dari dasar dan berbagai arah melalui narkotika. Memang dengan wilayah maritim Indonesia yang luas pihak keamanan sudah berusaha mencegah barang jahat tersebut ke negeri kita. Tapi mereka telah berupaya dan mereka mempunyai batas yang tak bisa dicapai dan diawasi terus menerus yang harus kita mengerti.
            Orang-orang dewasa dan kita harusnya lebih peduli lagi dan memberikan pengertian apa itu narkotika dan bahayanya. Bukan hanya bergantung pada tulisan bahaya narkotika yang terpajang di iklan baliho dan dianggap sekedar wacana atau isu musiman belaka.
            Setiap narkotika mampu membuat candu. Tapi bukan setiap candu adalah narkotika. Pengunaan smartphone, medsos, dan game online pun merupakan candu yang harus diwaspadai sejak dini. Tanpa terasa kehadiran smartphone di kehidupan kita sama berbahayanya dengan memakai narkoba yang menurunkan tingkat produktivitas, menghalusinasi diri seperti berada di dunia lain dan membuat masalah serasa terlepas sementara ketika memainkannya, menghipnotis pemiliknya untuk sekedar menghidupkan layar gadgetnya atau mengulir pesan dan status akun medsos orang lain.
            Perlu diketahui bahwa hari ini narkotika telah bertransformasi bentuk dan kemasan tapi intinya adalah sama; Narkoba!.
            Kita pasti pernah melihat berbagai peninggalan sejarah baik secara langsung atau hanya melihat beritanya. Pernahkah terbenak kenapa peradaban yang maju pada zamannya bisa punah? Faktor apa dan bagaimana peradaban yang maju itu bisa hilang? Mungkin ada yang menjawab karena perang perebutan kekuasaan, bencana alam dan sebagainya. Lalu bagaimana jika narkoba adalah penyebab runtuhnya suatu peradaban. Mungkin saja di zaman itu telah ditemukan narkoba, hanya saja penamaan dan bentuknya yang berbeda.
            Sayangi keluarga, kerabat dan keturunan anda, karena semua orang pasti berharap generasi setelahnya lebih baik dari sebelumnya. Berikan penggertian akan bahaya narkoba dan sekutunya, karena pencegahan lebih bermanfaat hari ini dari pada pengobatan di esok hari. Bila kita sudah mampu mengendalikan narkoba dan pengunaan smartphone secara individu dan komunitas, berarti kita telah menyiapkan satu langkah Indonesia untuk menjadi negara superpower.Wildanisma/red.

| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close