Trending Topic

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Post Page Advertisement [Top]




Libur semester telah berakhir, tahun ajaran baru pun dimulai, para santri berbondong-bondong dari berbagai daerah datang ke pondok baik santri yang baru mendaftarkan diri maupun santri yang lama, ada yang datang dengan kemauan sendiri dan ada karena paksaan dari orang tua. Entah itu berdasarkan kemauan sendiri atau paksaan dari orang tua, ketika ia sudah mendaftarkan dirinya ke pondok hendaknya meluruskan niat untuk belajar sungguh-sungguh, sebagaimana ungkapan yang sering terdengar saat perkenalan  Ji’tu ila hadzal ma’had litaallum” yang bermakna aku datang ke pondok untuk belajar.

Banyak sekali di kalangan para santri yang sudah mondok setahun, dua tahun, tiga tahun di pondok. Namun apa yang sudah didapat. Apakah sudah bisa baca kitab? Sudahkah fasih berbahasa arab? Sudah hafal berapa hadist? Sudah hafal berapa nazhom?. Bagaimana mungkin bisa membaca kitab kalau diajak belajar tidak mau, masuk kelas masih malas-malasan, bahkan ketika pelajaran berlangsung malah tertidur. Bagaimana mungkin bisa fasih berbahasa arab kalau berbicara tidak mengunakan bahasa arab dan tidak mau menghafal kosakatanya. Bagaimana mungkin bisa hafal banyak hadist dan nazhom kalau hifidz selalu dhoif  bahkan akhos. Mengapa semua itu terjadi? Padahal sudah lama belajar di pondok.
 Ada beberapa faktor penyebabnya, namun faktor yang menjadi sebab utama ialah salah pergaulan dalam memilih teman. Memang tak bisa dipungkiri lagi faktor tersebutlah yang juga sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang dipondok. Jika benar dalam memilih pergaulan maka akan sukses, tetapi kalau salah dalam memilih pergaulan maka tidak akan sukses. Kecuali cepat-cepat hijrah dengan cara memilih teman yang selalu mengajak kepada kebaikan, mencari teman yang selalu mengajak ta’lim dan menyemangati untuk selalu masuk kelas.
 Ada banyak sekali orang yang rusak karena pergaulan yang salah. misalnya saja Riko, seorang yang berteman dengan orang perokok, pemabuk dan pecandu narkoba. Awalnya ia ditawari memang tidak mau, kedua kali tidak mau, ketiga kali tidak mau, namun karena sering menolak munculah perasaan tidak enak dan temannya pun selau menawari, membujuk dan merayu untuk mencoba. akhirnya pun ia tergoda dengan dalih coba-coba, dari yang awalnya coba-coba menjadi ketagihan, dari yang awalnya cuma rokok yang dicobanya, akhirnya narkoba pun juga dicoba dan menjadi ketagihan. Itu contoh kecil dan masih banyak yang lain. Sepertinya ulama yang merumpamakan pergaulan dengan tukang minyak wangi dan tukang pandai besi masih berlaku di hari ini.
Langkah terbaik jika ada indikasi teman yang membuat malas di pondok, sukanya hanya nongkrong tanpa peduli dengan belajarnya, suka ngajak melanggar aturan atau hal buruk lainnya yang tak pantas dilakukan oleh seorang santri. Maka carilah teman lain yang bisa membawa pada kebaikan.
Rasul SAW pernah bersabda: “al jaalisu shoolih khairun minal waahidah, wal waahidah khairun minal jaalisis suu’.” yang artinya “teman duduk yang baik itu, lebih baik daripada sendirian dan sendirian lebih baik daripada teman yang jelek sifatnya.”
Realita yang terjadi di sekitar kita adalah, seorang teman mengajak temannya belajar namun dijawab tidak mau, tapi kalau diajak majlas (nongkrong) pasti mau apalagi jika ditraktir. Inilah realita ironi yang banyak terjadi pada kawan saat ini, lalu bagaimana dengan temanmu?.

Sifat teman yang baik dijelaskan oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah dalam kitab Mukhtasar Minhajul Qashidin  berkata:
وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا
Yang Artinya: “ Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut: orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia.”
Kemudian beliau menjelaskan: “Akal merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh. Karena orang yang bodoh, dia ingin menolongmu tapi justru dia malah mencelakakanmu. Yang dimaksud dengan orang yang berakal adalah orang yang memamahai segala sesuatu sesuai dengan hakekatnya, baik dirinya sendiri atau tatkala dia menjelaskan kepada orang ain. Teman yang baik juga harus memiliki akhlak yang mulia. Karena betapa banyak orang yang berakal dikuasai oleh rasa marah dan tunduk pada hawa nafsunya, sehingga tidak ada kebaikan berteman dengannya. Sedangkan orang yang fasik, dia tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, tidak dapat dipercaya dan engkau tidak aman dari tipu dayanya. Sedangkan berteman denagn ahli bid’ah, dikhawatirkan dia akan mempengaruhimu dengan kejelekan bid’ahnya.Hernando/red.




| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close