Trending Topic

IAI Dalwa

Cerpen

Opini

Post Page Advertisement [Top]



Oleh: Afinisme Author*
Pemuda itu membunuh malam-malamnya dengan setangkup doa dan sujud di atas sajadah usang. Ia yakin, tiga hal ini telah digaris rapi di Lauhul Mahfudz. Perihal rezeki, jodoh dan ajal. Setiap manusia membawa bagiannya sendiri-sendiri. Tidak akan pernah tertukar satu sama lain. Begitupun jodoh, kelak rusuk akan kembali ke pemiliknya sendiri. Tak penting sejauh mana seseorang melangkah pergi dan sekuat apapun menolak takdir. Bukankah Nabi Adam dan Hawa akhirnya bertemu setelah terpisah beratus-ratus tahun lamanya?
Suasana pesantren masih senyap. Para santri masih terlelap tidur di kamarnya masing-masing.  Hanya ia sendiri yang terjaga. Sebelum kelam malam hampir mati dibunuh fajar, diam-diam ia tuntaskan lantunan doa-doa dan harapan lalu mengambil secarik kertas dan mulai menulis untuk seorang hawa yang jauh di sana. Menulis surat tentang perjodohan yang membuatnya bimbang berbulan-bulan dan gundah gulana di siang dan malam.
Bukan ia berniat menolak perjodohan secara mentah-mentah. Pun tidak langsung menerima perjodohan itu bulat-bulat. Ia hanya ragu dan bimbang. Apakah perempuan itu benar-benar menerima perjodohan ini dengan lapang dada? Meski kedua orang tuanya menyerahkan semua urusan perjodohan itu padanya sendiri. Ia berpikir, cinta yang dipaksakan hanya akan memunculkan benih penyesalan yang lambat laun menjelma rerimbun kebencian. Ia tak menginginkan itu.  

Assalamualaikum Wr.Wb.
Teruntuk Kholisah…
Aku harap dengan kedatangan surat ini kau dan keluarga selalu dalam rahmat-Nya. Sebenarnya sulit bagiku untuk menulis. Entah dengan apa aku memulai untuk bicara dari hati ke hati melalui surat ini. Jujur, waktu hanya satu tahun lagi. Dan aku sangat bimbang dengan perjodohan ini. Bimbang dengan diriku sendiri. Aku hanya tidak ingin kau dan orang tuamu kecewa. Aku rasa banyak lelaki yang lebih bagus, pintar dan ‘alim di luar sana yang siap melamarmu.
Tanyakan sekali lagi pada hatimu dan mintalah petunjuk dari Allah SWT. Sebab rumah tangga bukan perkara main-main. Kau sendiri yang akan menjalaninya, bukan orang tuamu, apalagi orang lain. Jadi kau berhak menentukan, dengan siapa kelak kau menjalani kehidupan.
Aku juga bimbang dengan dirimu, apakah betul-betul siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersamaku? Dengan segala kekurangan dan keterbatasan. Sebab aku tak mau kelak ada tunas-tunas penyesalan yang menjadi rerimbun kesedihan. Karena aku lelaki sangat biasa. Bukan lelaki sholeh dan alim, juga bukan lelaki dengan segudang talenta.
Aku lelaki sangat biasa. Tidak bisa bersepeda apalagi motor. Aku hanya pejalan kaki, selalu tertatih lelah tanpa mengeluh dengan keterbatasanku sekarang. Siapkah kau berjalan bersamaku? Tidak cemburu dengan pengantin lain yang hilir-mudir dengan motornya saat berbulan madu?
Aku lelaki sangat biasa. Sering diejek dan ditatap aneh oleh orang-orang karena keterbatasanku. Siapkah kau diejek, karena bersuamikan lelaki sepertiku?
Aku lelaki sangat biasa. Terbiasa hidup biasa. Makan dan pakaian bukan berdasarkan merk dan kemewahan. Siapkah hidup biasa bersamaku tanpa tuntutan?
Aku memang lelaki sangat biasa, akan tetapi prinsipku bukan hal biasa. Aku menginginkan perempuan yang menerimaku apa adanya. Yang bersedia dibimbing, diarahkan, diatur, digurui oleh suaminya sendiri dalam hal kebaikan, tidak menuntut apapun di luar kemampuan suami dan tidak memperdulikan omongan orang lain.
Aku ingin perempuan sabar yang bisa meredam segala emosi dan amarahku kelak, seandainya  aku rapuh ketika menghadapi kehidupan, perempuan yang bisa dan selalu siap di rumah, tidak sibuk ke mana-mana, yang kelak menjaga rumah dan membesarkan anak-anak tanpa fitnah serta pengaruh dunia luar.
Siapkah untuk itu semua, seandainya kau memilih jadi pendampingku?
Tidak ada paksaan, kau bebas menentukan pilihanmu. Kau bebas mengambil keputusan. Sebab yang menjalani kehidupan ini adalah kau sendiri. Masih ada waktu satu tahun lagi. Mantapkan pilihanmu. Andai kau tak berkenan dengan semua konsekuensi yang kutuliskan, bicaralah pada orang tuamu dari hati ke hati. Sebisa mungkin, agar mereka bisa memahami.
Atau kau terlalu lelah untuk menunggu.  Maka, pahamkan mereka dengan keinginanmu. Sebab aku tahu, menunggu adalah hal yang membosankan dan menyiksa, apalagi untuk sesuatu yang tak pasti. Salah satunya jodoh, karena kepastian jodoh itu dari Allah, bukan dari rencana manusia. Dengan lapang hati dan tanpa tekanan, silahkan terima saja lelaki yang meminangmu kelak. Carilah kebahagian untuk mahligai yang akan kau bina. Aku tetap mendoakanmu. Yang terbaik. Selalu.

Tertanda
                                                                                                                     Muhammad
Raci, 21 Oktober 2018

*Pecandu telapak kaki ibu, rinai hujan, dan diksi ini sangat menggilai kuliner ibunya. Menggandrungi acara gastronomi, traveling, dan film horror yang disutradarai James Wan. Peminat buku-buku Andrea Hirata sejak tetralogi Laskar Pelangi diterbitkan. Sekarang giat menulis cerpen dan puisi untuk media (dengan niat dakwah melalui fiksi). Beberapa cerpennya pernah dimuat di Republika dan majalah Cahaya Nabawiy.



| Designed by lpmdalwa |Privacy Policy Map
close